Laman

Jumat, 05 Februari 2010

Lentera untuk sejarah rumah7 ku

Menempati tanah ini berawal dari niat yang sederhana yaitu doa yang terus dipanjatkan kepada Tuhan Yesus yang maha Baik dan usaha dengan iklas dan berbagi pada sesama.
Letak tanah ini berada di Jalan Kenanga Kompleks Tuan tanah pada jaman Belanda yaitu di Jalan Pemuda di kota Depok, Jawa Barat. Bagi yang mengetahui sejarah di Kota Tua Batavia (Jakarta) dan Depok pastinya paham tentang
tokoh
Cornelis Chastelein pemilih tanah Paviljoen dan Weltevreden, seorang anggota Dewan Hindia Belanda (1693). Keturunan dari tokoh inilah yang memiliki perkebunan dan persawahan terbesar saat itu di Kota bogor dan termasuk kelurahan Depok. Di Kawasan Jalan Pemuda inilah para pemilih tanah tinggal beserta pekerjanya termasuk di jalan Kenanga tersebut. Dalam perjalan revolusi perjuangan RI pada saat agresi Belanda Ke II orang-orang Belanda meninggalkan Indonesia kemudian tanah,sawah dan perkebunannya di hibahkan kepada pembantunya masing-masing dan terdapat 12 marga (dari Sudiro-Ishak). Nah...itulah sekelumit sejarah asal tanah Jalan Kenanga Depok.

Setelah 2 tahun mengontrak rumah di salah satu penerus pemilih tahan di jalan Kenanga, kami (saya dan istri) berfikir bagaimana kalau punya tempat tinggal di kawasan ini, dan di depan selang 2 kapling tanah dari tempat kami kontrak ada tanah beserta rumah sederhana. Kemudian kami coba mencari tahu status tanah itu, dan ternyata tanah itu tidak untuk di jual. Kami tumpang tangan pada no.7A yang diletakkan di pagar depan rumah tersebut kalo tuhan mengendaki terjadilah. Kurang lebih 5 bulan kami kembali mencari tahu lagi status tanah tersebut dan langsung kepada yang punya tanah, di katakan mau di jual tetapi harus chass dengan sejumlah besaran ratusan juta rupiah kamipun belum bisa beli tanah tersebut, tetap yang bisa kami lakukan tumpang tangan pada no. 7A itu. Kabar selanjutnya tanah tersebut sudah laku terjual termasuk sebidang tanah kosong yang ada disampingnya, yang kami lakukan tumpang tangan sebagai lambang kepasrahan kepada Tuhan......

Beberapa minggu kemudian kami menjalani kehidupan seperti biasa dan berada di tengah kegalauan mengingat istri sedang hamil anak kami ke dua. Ternyata Tuhan mengendaki lain istriku mengalami keguguran dan kamipun tentunya merasa bersalah tidak bisa menjaga anak yang sedang tumbuh di janin...pada masa itu terasa hampa.

Tapi Tuhan memberi jawaban yang sungguh luar biasa disaat kegalauan dan kesediahan kami di telepon pemilih tanah tesebut agar supaya kita membeli tanahnya, dan terserah mau dengan apapun caranya kami harus membayar.....dan degan cara menkridit (mencicil) selama1.2 tahun kami bisa lakukan itu..
Dan tentunya masih ada kewajiban kami untuk memproses balik nama sertifikat dengan segra...

Tempat ini sungguh strategis dekat Pusat Pendidikan (SD N I Depok, SMP N 1 Depok, Mardi Yuana, PRIBADI), Tempat Ibadat Gereja-gereja dan Masjid), Pusat Kesehatan (RS. Mitra Keluarga, RS. Hermina dan RS. Harapan Depok), Pusat Pemerintahan (Kantor Walikota Depok, Kantor DPRD, Kelurahan, Kecematan dan Polres Depok, Pusat Perbelanjaan ITC Depok, Pasar Segar) Tempat Hiburan Water Bom Perum. Kota Wisata di dan sudah di bangun claster-claster perumahan sperti Villa Hijau, Aruba, Alam Permai, Permata Depok) dan Teminal-Stasiun KRL

Tuhan Maha Baik, Tuhan memberi rejeki dan kebagiaan kepada kami tidak dengan sekaligus tetapi tahap demi tahap...Terimakasih Tuhan...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar